menyiapkan hal-hal yang membuat marah datang.

Bisa tidak dia membuat definisi yang menyulitkan si marah datang? Bisa saja, misal;

“Saya marah bila seseorang secara sadar dan diluar tekanan apa pun merendahkan agama dan Tuhan.”

Artinya, bila seseorang merendahkan dia dan atau keluarga atau karena KECEPLOSAN atau tekanan psikis, tidak ada tempat untuk marah.

Lagi pula, kenapa kita harus membuat marah dengan mudah datang? Jadi buatlah definisi marah yang membuatnya sulit datang.

Lebih jarang kita temui orang menghina agama dan Tuhan dibadingkan menghina sesama.

Nah ini berbeda ketika saya bertanya “apa yang membuatmu bahagia?”

Diantara yang saya tanya, beberapa menjawab begini;

“Kalau bisa bebas.”
“Kalau kaya, punya uang Rp 1M.”
“Kalau semua keinginan bisa terpenuhi.”

Dan banyak lagi dengan makna yang kurang lebih sama.

Lalu saya menelisik lebih jauh untuk pertanyaan diatas kepada masing-masing orang. Anda tahu apa yang terjadi?

Mereka sepakat bahwa sulit mewujudkan apa yang sudah disebutkan tadi. Dengan kata lain, mereka membuat definisi bahagia yang sulit dipenuhi. Mereka membuat batasan bahagia sehingga MUSTAHIL dicapai!

Padahal bisa saja kita membuat definisi bahagia begitu mudah,

“Saya bahagia saat bisa bernafas.”

“Saya bahagia bila masih punya kesempatan memperbaiki amal.”

Kadang lucu, untuk emosi negatif dibiarkan mudah datang sedangkan untuk emosi positif dibuat susah terwujud. Mereka membuat batasan itu melalui definisi yang dibuat sendiri.

Nah sekarang kita sedang memgerjakan bisnis dan saya tahu diantara kita banyak yang lemah semangat dan hampir-hampir putus harapan.

Saran saya, cek definisi Anda tentang bisnis yang sedang dijalani.

Mungkin sebelumnya -sadar atau tidak- Anda membuat definisi

“Bahagia bila closing”

yang bila dibalik maknanya,

“Sedih bila ditolak”

Atau,

“Antusias bila dihargai prospek.”

yang bila dibalik maknanya,

“Putus asa bila direndahkan prospek.”

Nah sekarang, cobalah memperbaharui definisi,

“Bahagia saat berkesempatan berbagi ilmu dan harta”

Bila dibalik maknanya menjadi,

“Sedih bila tidak sempat berbagi ilmu dan harta.”

“Antusias saat menyampaikan kebaikan.”

Bila dibalik maknanya menjadi,

“Putus asa saat menyampaikan keburukan.”

Bukankah edukasi kita adalah kebaikan? Definisi ini tidak dibatasi oleh respon prospek seperti definisi pertama.

Dengan kata lain, definisi yang kedua ini fokus pada proses yang kita jalani dan kita memutuskan bahagia serta antusias tanpa dipengaruhi respon orang lain.Kitalah pengendali bahagia dan antusias, bukan orang lain.

Akhirnya tulisan ini bukanlah untuk menasehati Anda, tapi sedang memgingatkan diri sendiri. Bila Anda merasa bermanfaat dengan tulisan ini, silahkan share dan… Yuk perbaiki definisi yang kita yakini agar lebih mudah untuk bahagia serta antusias.

Wallahu a’lam

Bekasi, 7 Maret 2016

Ahmad Sofyan Hadi

#KangenAmazingTeam
#ASSYST
#LCDBandung
#SedekahRp20juta/bln
#TheNextLegend

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s