ku tag Engkau dengan basmallah

-When you love somebody or something, you can do just anything-
Term itu aku dapatkan di kelas Prose, salah satu mata kuliah di program studiku. Kami sedang membahas satu cerita pendek berjudul Editha. Editha bercerita tentang seorang wanita yang berjiwa nasionalis kental. Kecintaan pada negaranya melebihi segalanya. Ia merelakan kekasihnya, George, pergi ke medan laga dalam pertempuran membela negaranya. Meski akhirnya George tewas pun ia tetap tegar. Ia tahu kematian orang yang dikasihinya tidak sia-sia. Jauh di atas itu, ia lebih mencintai negaranya. Menurut Editha, inilah dedikasinya pada negara hingga rela ia korbankan kekasihnya. Ketika kau mencintai seseorang atau sesuatu, kau dapat melakukan apapun. Ya, kira-kira begitulah arti dari penggalan kalimat di atas. Walau Editha hanyalah sebuah fiksi, ia berhasil mengetuk hatiku untuk berpikir lebih dalam mengenai tema yang disuguhkannya yaitu cinta. E
its, jangan bersikap apriori dulu. Di sini aku tidak membahas cinta yang “basi”.
Mari kita baca kisah yang berikutnya..

Meski di tengah malam yang hampir mustahil seseorang akan membukakan pintu untuk dirinya, seorang ibu berusaha keras mencari pertolongan untuk anaknya yang sedang menggigil karena demam tinggi. Ia berlari-lari sendirian mencari pertolongan karena suaminya sedang keluar kota. Ia berlari ke sana ke mari. Akhirnya ia sampai di depan rumah seorang dokter. Dengan penuh harap, ia percepat larinya untuk mencapai pintu rumahnya. Tapi, celaka. Pagarnya terkunci. Ia berteriak-teriak memanggil dokter. Hening. Tidak ada jawaban dari dalam. Tanpa pikir panjang, ia segera ambil ancang-ancang. Dari jarak sekian meter, ia lompati pagar rumah dokter itu dan berhasil mencapai pintu. Dokter pun keluar dan bersedia membantu. Cepat ia berkemas. Bergegas. Tiga hari sesudahnya, ibu dan anak tadi mengunjungi dokter tersebut. Mereka ingin berterimakasih. Bingkisan yang telah dibungkus rapi itu dipeluk erat si anak. Sampai di depan rumah dokter tersebut, si ibu sangsi. Ia tidak lagi mengenali rumah si dokter hingga dokter itu keluar menyapanya. Ia terkejut bukan kepalang. Pasalnya, rumah yang kini ada di hadapannya itu memiliki pagar setinggi 1.2 meter. Bagaimana mungkin itu adalah pagar yang diloncatinya 3 malam yang lalu? 

Mungkin Anda tersenyum setelah membacanya.
Apa karena cerita ini mirip dengan cerita di sebuah buku yang sangat familiar?
Hehe.
Saya plagiat?
Tentu tidak, ini tulisan hasil interpretasiku sendiri berdasarkan pengakuan seorang Ibu yang sangat ekspresif saat menceritakan kisah ini. 

Dalam situasi normal, tentu saja ibu tadi tidak dapat melewati pagar setinggi 1.2 meter itu. Tak ada pilihan lain saat itu. Jika ia tidak loncati pagar itu,nyawa anak taruhannya. Maka mau tak mau ia lakukan itu.
Meminjam istilah dari Jaya Setiabudi bahwa jika kepepet, semua bisa dilakukan.Yang ingin kusampaikan disini bukan tentang kepepetnya, tapi tentang cinta sang ibu pada anaknya.
Ya, mungkin ibu tersebut memang kepepet. Tapi ada yang lebih besar dari itu. Sesuatu yang membuatnya harus meloncati pagar. Yaitu kecintaan pada anaknya. Ia berani mengambil resiko kakinya patah saat meloncati pagar atau dimaki-maki orang karena teriakannya di malam buta, hanya untuk anak yang sangat dicintainya. Hanya agar si anak kembali sehat. 

When you love somebody, you can do just anything. 

Sekali lagi lagi term ini terbukti. Potongan-potongan kisah ini menuntunku berpikir lebih dalam. Menginternalisasikan sendi-sendi maknanya ke dalam kontemplasi diri. Di dalam hati kecilku, aku mengakui bahwa benar ketika kita mencintai seseorang atau sesuatu, bisa jadi apapun akan kita lakukan demi kebahagiaannya. Editha yang merelakan George pergi demi negaranya, atau seorang ibu yang dapat melampaui keterbatasannya demi kesehatan anaknya. Jika dua jenis kecintaan ini saja begitu dahsyatnya. Lalu bagaimana halnya dengan cinta yang dilandasi oleh keimanan pada Allah? Tentu masih sangat segar di ingatan, bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq melindungi Nabi dari sengatan ular saat mereka berdua berada di sebuah gua dalam perjalanan menuju Madinah. Ia halangi ular berbisa itu dengan jempol kakinya agar tetap di lubangnya. Saat ular itu menggigit kakinya, ia tahan rasa sakit itu sendiran. Ia menahan rintihannya agar tidak membangunkan tidur Rasul. Cinta jenis apakah ini, hingga seseorang rela mengorbankan keselamatan dirinya demi seorang saudaranya? Atau sebuah kisah yang meriwayatkan bahwa si fulan tak sengaja menjatuhkan kantung airnya ke dalam sebuah danau. Ia lekas mencarinya. Melihat hal tersebut, seluruh teman-temannya terjun untuk membantunya mencari kantung air hingga dapat. Demi menyaksikannya, seorang kafir takjub sambil berkata,”Jika sebuah kantong air yang hilang saja, semua turut mencari. Bagaimana jadinya jika aku membunuh salah satu diantara mereka?” . Dan satu kisah di masa permulaan Islam. Sebuah keluarga yang didera dengan berbagai azab dan siksa di bawah terik matahari Makkah. Mereka adalah Yassir, Sumayyah, dan Amr. Tak ada penyesalan tergambar dari wajah mereka walau telah disiksa begitu berat. Yang keluar dari bibir-bibir mereka yang kering kerontang, kehausan, hanyalah kalimat tauhid yang amat indah,”Ahad.. ahad… ahad…” Allah Telah Menguatkan hati mereka. Keyakinan dan keteguhan iman mereka membuat orang-orang kafir semakin gelisah, tidak sabar. Maka diambilnya tombak. Tanpa belas kasihan, ditusukkannya tombak tersebut pada tubuh Sumayyah. Ialah syahidah pertama di muka bumi. Kecintaanya pada Allah telah mengantarkannya syahid. Pastilah Allah menyambutnya dengan tersenyum suka cita. 

Wahai saudaraku, setiap sesuatu pasti memiliki konsekuensi. Ketika kita mengaku mencintai Allah apakah kita dibiarkan begitu saja, tanpa pembuktian, tanpa pengorbanan? 

-Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?- Al Ankabut: 2 

Ukhti…akhi… 
Love needs sacrifice. 
Cinta itu membutuhkan pengorbanan. Tidak ada sesuatu pun yang akan menerima cinta kita jika hanya sebatas lisan. Lihatlah Sumayyah yang tak gentar oleh runcingnya tombak dan panasnya pasir Mekkah yang mendidih, demi mempertahankan Allah sebagai Ilahnya. Inilah pembuktian cinta paling fenomenal di masa permulaan Islam.  Kini kita hidup di bumi Allah yang tidak ada lagi larangan atau siksaan ketika kau pilih agama ini sebagai jalan hidupmu. Sungguh kenikmatan yang luar biasa bahwa tidak lagi kita jumpai pembantaian seperti yang ada di masa itu. Atau aku punya pemikiran lain, bahwa Allah Tahu kita takkan mampu dan tak pantas untuk hidup di masa permulaan Islam. Bagaimana mungkin jiwa-jiwa yang rela menukar suara azan dengan nyanyian di televisi dapat ditempatkan di masa yang memerlukan kekuatan luar biasa untuk mempertahankan aqidah? 

Akhi…ukhti…
jika kini aku lontarkan pertanyaan, apa yang akan kau jawab? 
-When you love Allah, will you do just anything?

-Gellis Firdha Auliana-

View on Path

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s